Dosen UMMU Berikan Kuliah Umum di Pascasarjana Pendidikan Biologi Unkhair

Maluku Utara yang memiliki luas wilayah 31.982,50 KM2 adalah provinsi yang berciri kepulauan, dimana 76,38 % adalah wilayah laut sementara luas daratan hanya sebesar  23,72%. Meskipun sebagian besar desa di Provinsi Maluku Utara berada di pesisir pantai, namun ketergantungan hidup atau kegiatan ekonomi lebih dominan ke darat dibandingkan ke laut.

Hal tersebut dikatakan Dr. Muhlis Hafel, M.Si ketika menjadi pembicara pada kuliah tamu yang bertemakan Kebijakan Pembangunan Berbasis Pemahaman Sosial, Budaya, Ekonomi dan Lingkungan Hidup Komunitas Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Kegiatan yang pandu moderator, Dr. Chumidach Roini, M.Si yang juga Ketua Prodi Pendidikan Pasca Sarjana Biologi Unkhair berlangsung di Aulau  Mini lantai 2 gedung FKIP  pada Jumat (16/11) pekan lalu.

Menurutnya, masyarakat wialayah pesisir di Maluku Utara sangat bergantung pada beberapa sektor unggulan diantaranya dibidang pertanian, perikanan, pertambangan serta pariwisata.

“Dibidang perikanan, misalnya di Pulau Morotai itu memiliki potensi perikanannya luar biasa, tapi kita bisa lihat nelayan-nelayan disana tidak mampu untuk menggarapnya karena keterbatasan aramada laut sebab selama ini bantuan yang diberikan pemeritah daerah hanya berupa perahu kecil atau yang biasa kita sebut ketinting, nah ketinting itu kan ukuran motor (kapal) laut yang paling kecil jadi sulit menggarapnya (potensi perikanan)” ujar dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.

Dirinya menambahkan, akibat ketidakmampuan nelayan lokal mengekploitasi potensi perikanan tersebut, maka marak terjadi illegal fishing yang dilakukan oleh nelayan asing khususnya Philipina dengan menggunakan kapal yang berukuran besar.

Berdasarkan salah satu penelitian yang dilakukan pada tahun 2009 kata Dr. Muhlis, potensi perikanan di Pulau Morotai setiap tahunnya mengalami kerugian sebesar 9 triliun rupiah.

Sementara dibidang pertambangan, dengan ada banyaknya perusahaan pertambangan yang mengekploitasi hasil tambang di Maluku Utara berdampak pada faktor kondisi lingkungan. Dimana terjadi pencemaran lingkungan akibat dari limbah industri pertambangan sehingga sangat mempengaruhi  mata pencaharian masyarakat lokal setempat. Selain itu meningkatnya degradasi ekosistem karena perilaku yang tidak ramah terhadap lingkungan. (chn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *