RRI Ternate Gelar Live Talk Show di FKIP Unkhair
Radio Talk Show suara kebangsaan yang di gelar RRI Ternate untuk memperingati Hari Pahlawan yang ke 74 berlangsung di Aula Mini lantai 2 gedung FKIP. Acara yang disiarkan secara langsung melalui Pro 1 RRI Ternate serta live streaming melalui www.rri.co.id itu menghadilrkan 3 narasumber yakni Dr. Rustam Hasim, M.Hum (akademisi), Mayor Kav. Yuki Andropof (TNI) dan Adam Basirun (Mahaiswa IAIN Ternate).
“Acara yang digagas RRI Ternate ini merupakan salah satu bentuk kerjasama antara FKIP Unkhair dengan RRI Ternate melalui MoU , dan ini merupakan kali pertama acara talk show digelar di FKIP” kata Wakil Dekan I Bidang Akademik Dr. Hasan Hamid ketika memberikan sambutan, pada Selasa (12/10).
Dirinya menyambut positif kegiatan yang baru pertama kali di gelar di FKIP tersebut. Oleh karena itu, selain mengajak mahasiswa untuk berinteraksi dalam acara talk show , wadek I juga berharap agar kedepan kegiatan ini dapat terus dilakukan oleh RRI Ternate di FKIP.
[caption id="attachment_992" align="alignleft" width="250"]
Wakil Dekan I Bidang Akademik Dr.Hasan Hamid,M.Si saat memberikan sambutan[/caption]
Talk show yang mengangkat tema Mewarisi Nilai-Nilai Kepahlawanan ini dipandu penyiar senior RRI Ternate Nuregia Samsudin, berlangsung meriah karena diselingi dengan lagu-lagu perjuangan nasional yang dinyanyikan oleh para pemenang bintang radio tingkat Provinsi Maluku Utara pada setiap sesi dialog.
Dr. Rustam Hasim, M.Hum yang juga dosen Prodi PKn FKIP Unkhair saat tampil sebagai pembicara pertama menguraikan dari sisi sejarah bahwa Maluku utara telah dikenal sebagi pusat imperium diabad ke 14 dan 15.
Dimana ditahun 1512 merupakan titik awal Moloku Kie Raha mulai berinterkasi dengan dunia internasional yakni kedatangan bangsa Portugal (Portugis) di Ternate serta ditahun 1521 dengan kedatangan Spanyol yang mendarat di Tidore, kemudian berturut-turut kedatangan bangsa Belanda, Inggris hingga penjajahan oleh bangsa Jepang di tahun 1942.
“Dalam kurun waktu yang panjang tersebut telah silih berganti 11 gubernur Portugis dan 5 gubernur jendral dari Belanda yang bertugas di Ternate . Nah, dari kurun waktu yang panjang itu Maluku Utara diperhadapkan dengan sebuah imperialisme. Dimulai dari masa keusultanan Tabariji yang berkuasa dari tahun 1533-1534 hingga sultan Iskandar Jabir syah yang merupakan sultan Ternate ke 47 yang telah berjuang melawan penjajah”. Ujar Dr. Rustam Hasim.
Oleh karena itu, menurutnya kita sebagai generasi penerus bangsa harus mewarisi nilai-nilai semangat perjuangan mereka yang telah rela berkorban harta dan nyawa demi bangsa dan negara ini. Apalagi saat ini masyarakat Maluku Utara masih memperjuangkan sultan Babullah sebagai pahlawan nasional. (chn)
Wakil Dekan I Bidang Akademik Dr.Hasan Hamid,M.Si saat memberikan sambutan[/caption]
Talk show yang mengangkat tema Mewarisi Nilai-Nilai Kepahlawanan ini dipandu penyiar senior RRI Ternate Nuregia Samsudin, berlangsung meriah karena diselingi dengan lagu-lagu perjuangan nasional yang dinyanyikan oleh para pemenang bintang radio tingkat Provinsi Maluku Utara pada setiap sesi dialog.
Dr. Rustam Hasim, M.Hum yang juga dosen Prodi PKn FKIP Unkhair saat tampil sebagai pembicara pertama menguraikan dari sisi sejarah bahwa Maluku utara telah dikenal sebagi pusat imperium diabad ke 14 dan 15.
Dimana ditahun 1512 merupakan titik awal Moloku Kie Raha mulai berinterkasi dengan dunia internasional yakni kedatangan bangsa Portugal (Portugis) di Ternate serta ditahun 1521 dengan kedatangan Spanyol yang mendarat di Tidore, kemudian berturut-turut kedatangan bangsa Belanda, Inggris hingga penjajahan oleh bangsa Jepang di tahun 1942.
“Dalam kurun waktu yang panjang tersebut telah silih berganti 11 gubernur Portugis dan 5 gubernur jendral dari Belanda yang bertugas di Ternate . Nah, dari kurun waktu yang panjang itu Maluku Utara diperhadapkan dengan sebuah imperialisme. Dimulai dari masa keusultanan Tabariji yang berkuasa dari tahun 1533-1534 hingga sultan Iskandar Jabir syah yang merupakan sultan Ternate ke 47 yang telah berjuang melawan penjajah”. Ujar Dr. Rustam Hasim.
Oleh karena itu, menurutnya kita sebagai generasi penerus bangsa harus mewarisi nilai-nilai semangat perjuangan mereka yang telah rela berkorban harta dan nyawa demi bangsa dan negara ini. Apalagi saat ini masyarakat Maluku Utara masih memperjuangkan sultan Babullah sebagai pahlawan nasional. (chn)