Kuliah Tamu Prodi Pendidikan Kimia : Kurikulum dan Bahan Ajar sebagai Penentu Arah Pengembangan Pendidikan Kimia
Wakil Rektor I Bidang Akademik Dr. Suratman Sudjud, MP, membuka kegiatan kuliah tamu Prodi Pendidikan Kimia di Aula Mini gedung FKIP Unkhair pada Kamis (15/11). Kuliah tamu ini menghadirkan Dr. Paed. Sjaeful Anwar dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Dalam sambutannya warek I mengatakan tema yang diangkat dalam kuliah tamu ini merupakan bagian implementasi dari Permen Ristek Dikti nomor 44 tahun 2015 tentang Standar Nasional Perguruan Tinggi dengan delapan standar pendidikannya.
Menurutnya, berbicara mengenai kurikulim dan bahan ajar berarti berbicara standar isi dari permen tersebut yang didalamnya termasuk standar pendidikan. Oleh karena itu hal terpenting kata warek I, para dosen di Prodi Pendidikan Kimia harus telah menentukan standar komptensi lulusannya karena hal tersebut menjadi dasar apa yang nanti diberikan dalam bahan ajar.
Dirinya berharap agar dosen di Prodi Pendidikan Kimia dapat memanfaatkan kehadiran dari narasumber untuk bisa sharing ilmunya.
“Saya berharap para dosen kimia dapat memanfaatkan kehadiran pak Sjaeful Anwar disini, sehingga apa yang beliau punya dapat juga dimiliki oleh kita melalui ilmu yang beliau sharing agar dapat membawa arah pengembangan prodi kimia kedepan yang lebih baik, karena ini momentum yang paling baik sehingga bagaimana kita dapat memanfaatkan momentum itu” ujar warek I.
Sementara itu, Dr. Paed. Sjaeful Anwar dalam kuliahnya lebih banyak melakukan sharing tentang kurikulum pendidikan yang telah diterapkan di Prodi Pendidikan Kimia di UPI Bandung. Dia mengatakan dalam penentuan judul proposal atau skripsi seorang mahasiswa, saat ini di prodinya tidak lagi menggunakan pola lama melainkan telah mengagantinya dengan pola baru.
“Pola lama yang digunakan adalah mahasiswa disuruh mencari judul proposalnya sendiri tapi sekarang tidak lagi, jadi di prodi kami ada wadahnya yang disebut payung penelitian dimana para dosen yang memiliki keahlian masing-masing memaparkan artikelnya dihadapan mahasiswa, kemudian mahasiswa yang akan memilih judul sesuai dengan apa yang telah dipaparkan oleh para dosen yang sesuai dengan bidang keahliannya sekaligus sebagai pembimbingnya“ kata Dr. Paed. Sjaeful yang juga Ketua Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Pendidikan MIPA UPI-Bandung.
Menurutnya, hal itu dilakukan agar sesuai dengan keahlian masing-masing pembimbing sehingga pembimbingnya dapat membimbing mahasiswa secara lebih mendalam.
“Misalnya ada mahasiswa yang meminta bimbingan kepada dosen tertentu yang bukan bidangnya bisa jadi yang membimbing tidak lebih paham dari yang dibimbing. Nah, gejala ini yang yang dibaca sehingga merasa tidak cocok untuk diterapkan di prodi kami” sebut pria berkacamata ini.
Dia juga menambahkan seringkali ada dosen yang mengoreksi proposal mahasiswa hanya memberikan coretan saja tanpa diberikan pemahaman kepada mahasiswa maksud dari coretan itu.
“Ada dosen yang melakukan koreksi hanya dicoret saja. Ada yang gak dicoret ada yang dicoret lantas diberikan tanda tanya, ini maksudnya apa ? kan gak ngerti juga ya, seharusnya dibawah coretan itu ditulis (penjelasannya) seperti apa, jadi kalau dikami sekarang sudah mulai berubah bila ada coretan dibawahnya ditulis harus diapakan supaya jangan membingungkan mahasiswa” tambahnya.
Dr. Paed Sjaeful Anwar juga menegaskan bahan ajar maupun kurikulum sangat dekat dan tak terpisahkan. Menurutnya bahan ajar merujuk dari kurikulum begitu pula sebaliknya kurikulum bisa dikembangkan melalui bahan ajar .
Dia juga mengatakan tiga komponen utama dalam proses belajar mengajar adalah, bahan ajar, guru dan siswa. Apabila salah satu dari tiga kompenen tersebut tidak ada maka proses belajar mengajar tidak dapat berjalan sedangkan media pembelajaran hanya menjadi komponen sekunder atau pendukung. (chn)
“Pola lama yang digunakan adalah mahasiswa disuruh mencari judul proposalnya sendiri tapi sekarang tidak lagi, jadi di prodi kami ada wadahnya yang disebut payung penelitian dimana para dosen yang memiliki keahlian masing-masing memaparkan artikelnya dihadapan mahasiswa, kemudian mahasiswa yang akan memilih judul sesuai dengan apa yang telah dipaparkan oleh para dosen yang sesuai dengan bidang keahliannya sekaligus sebagai pembimbingnya“ kata Dr. Paed. Sjaeful yang juga Ketua Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Pendidikan MIPA UPI-Bandung.
Menurutnya, hal itu dilakukan agar sesuai dengan keahlian masing-masing pembimbing sehingga pembimbingnya dapat membimbing mahasiswa secara lebih mendalam.
“Misalnya ada mahasiswa yang meminta bimbingan kepada dosen tertentu yang bukan bidangnya bisa jadi yang membimbing tidak lebih paham dari yang dibimbing. Nah, gejala ini yang yang dibaca sehingga merasa tidak cocok untuk diterapkan di prodi kami” sebut pria berkacamata ini.
Dia juga menambahkan seringkali ada dosen yang mengoreksi proposal mahasiswa hanya memberikan coretan saja tanpa diberikan pemahaman kepada mahasiswa maksud dari coretan itu.
“Ada dosen yang melakukan koreksi hanya dicoret saja. Ada yang gak dicoret ada yang dicoret lantas diberikan tanda tanya, ini maksudnya apa ? kan gak ngerti juga ya, seharusnya dibawah coretan itu ditulis (penjelasannya) seperti apa, jadi kalau dikami sekarang sudah mulai berubah bila ada coretan dibawahnya ditulis harus diapakan supaya jangan membingungkan mahasiswa” tambahnya.
Dr. Paed Sjaeful Anwar juga menegaskan bahan ajar maupun kurikulum sangat dekat dan tak terpisahkan. Menurutnya bahan ajar merujuk dari kurikulum begitu pula sebaliknya kurikulum bisa dikembangkan melalui bahan ajar .
Dia juga mengatakan tiga komponen utama dalam proses belajar mengajar adalah, bahan ajar, guru dan siswa. Apabila salah satu dari tiga kompenen tersebut tidak ada maka proses belajar mengajar tidak dapat berjalan sedangkan media pembelajaran hanya menjadi komponen sekunder atau pendukung. (chn)